Mengenal Leptospirosis: Penyakit Kencing Tikus
Mengenal Leptospirosis: Penyakit Kencing Tikus

Mengenal Leptospirosis: Penyakit Kencing Tikus

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis (penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan dapat ditularkan melalui kontak dengan air, tanah, atau lumpur yang terkontaminasi urin tikus atau hewan lain yang terinfeksi. Leptospirosis disebabkan oleh organisme pathogen dari genus Leptospira yang termasuk dalam ordo Spirochaeta dalam famili Trepanometaceae (Rampengan, 2016). Bakteri ini memiliki bentuk spiral dengan pilinan yang rapat dan tiap ujungnya berbentuk seperti kait sehingga bakteri sangat aktif baik Gerakan berputar sepanjang sumbunya, maju-mundur, dan melengkung (CDC, 2018).

Menurut Aziz (2019) dalam (Muthiadin and Purba n.d.) menyebutkan faktor-faktor yang memiliki hubungan dengan kejadian leptospirosis yaitu faktor lingkungan dan faktor perilaku manusia. Faktor lingkungan berdasarkan lokasi yakni terdiri dari:

  1. Lokasi dengan kepemilikan hewan peliharaan. Hewan peliaharaan dapat menjadi perantara apabila terinfeksi oleh bakteri Leptospira.
  2. Lokasi yang dekat dengan keberadaan tikus yang terdapat di sekitar rumah. Diketahui bahwa tikus dapat menularkan bakteri leptospira melalui urin yang dikeluarkannya; dan
  3. Lokasi dengan tiga jenis vegetasi. Vegetasi yang sangat berhubungan dengan leptospirosis ialah pepohonan, hutan heterogen, sawah dan semak-semak. Pada vegetasi tersebut banyak sekali genangan air dan suhu yang sangat cocok untuk tumbuh bakteri Leptospira.

Adapun faktor lingkungan yang berkaitan dengan penularan leptospirosis menurut  (Rusmini, 2011) dalam (Muthiadin and Purba n.d.) ialah lingkungan abiotik maupun biotik. Faktor lingkungan abiotik terdiri dari indeks curah hujan, suhu udara, suhu air, kelembaban udara, intensitas cahaya, pH air dan pH tanah. Sedangkan faktor lingkungan biotik meliputi vegetasi dan keberhasilan penangkapan tikus. Faktor lingkungan berdasarkan karakteristik lingkungan yaitu terdiri atas:

  1. Pemukiman, apabila pemukiman semakin padat maka  akan semakin sulit dalam mengontrol kebersihan lingkungan, lingkungan yang kotor ialah habitat yang sangat cocok untuk tikus dan dapat meningkatkan faktor resiko dari bakteri Leptospira yang berada di dalam tikus tersebut;
  2. Area luasan banjir, apabila area banjir semakin luas dan tikus yang telah terinfeksi bakteri Leptospira mengeluarkan urinnya maka akan sangat mudah terjadinya penyebaran;
  3. Ketinggian tempat, ketika tempat tinggal semakin rendah maka akan semakin sulit untuk mengalirkan air sehingga akan terbentuk banyak genangan air yang bisa menjadi media tempat tikus mengeluarkan urinnya; dan
  4. Indeks kerapatan vegetasi, apabila semakin padat vegetasi seperti hutan, semak-semak dan sawah maka akan semakin tikus yang dapat memperbesar resiko penularan.

PENCEGAHAN

Leptospirosis dapat dicegah dengan beberapa langkah awal, antara lain:

  1. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai proses penularan penyakit ini;
  2. Melindungi para pekerja yang bekerja di daerah yang telah tercemar dengan menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti sarung tangan, apron, dan sepatu boot;
  3. Mengenali air dan tanah yang memiliki potensi terkontaminasi dan mengeringkan air tersebut;
  4. Memberantas hewan-hewan pengerat seperti tikus dari lingkungan pemukiman terutama pada pedesaan dan tempat-tempat rekreasi;
  5. Imunisasi kepada hewan ternak dan binatang peliharaan dapat mencegah timbulnya penyakit,
  6. Imunisasi dapat diberikan kepada orang yang memiliki pekerjaan yang dekat dengan Leptospira jenis serovarian tertentu, hal ini telah dilakukan di Jepang, Itali, dan Perancis;
  7. Menutupi luka dan lecet dengan menggunakan pembalut kedap air terutama sebelum bersentuhan dengan lumpur atau air yang terinfeksi oleh bakteri Leptospira.

DIAGNOSIS

Pasien dengan leptospirosis setidaknya menunjukkan salah satu gejala berikut: sakit kepala, mialgia atau nyeri otot, ikterus, sufusi konjungtiva, oliguria, meningitis, gagal jantung atau aritmia, batuk, sesak napas, ruam kulit (Rajapakse, 2022).

Namun, ada pula diagnosis banding yang dapat menjadi pertimbangan akan penyakit leptospirosis ini. Adapun diagnosis banding tersebut ialah: demam dengue dan demam berdarah dengue, influenza, malaria, yellow fever, pielonefritis, rickettsiosis, aseptik, hepatitis virus, demam tifoid, serta toksoplasmosis (Rampengan, 2016).

PENATALAKSANAAN

Pentalaksanaan penyakit leptospirosis melibatkan beberapa aspek, termasuk diagnosis, pengobatan dan pencegahan. Menurut Ristiyanto (2013) dalam (Muthiadin and Purba n.d.) menyebutkan bahwa doksisiklin telah terbukti efektif dalam mencegah leptospirosis pada anggota militer dengan cara memberikan dosis oral 200 mg seminggu sekali selama masa penularan di Panama. Penggunaan antibiotic yang sesuai juga dapat dilakukan sedari awal.

               Adapun terapi leptospirosis ringan, yaitu:

  1. Doksisiklin 2 X 100 mg selama 7 hari kecuali pada anak, ibu hamil, atau bila Doksisiklin.
  2. Alternatif (Bila tidak dapat diberikan doksisiklin)
  3. Amoksisilin 3 X 500mg/hari pada orang dewasa
  4. Amoksisilin 10-20mg/kgBB per 8 jam pada anak selama 7 hari
  5. Bila alergi Amoksisilin dapat diberikan golongan Makrolid.

Terapi leptospirosis berat:

  1. Ceftriaxon 1-2 gram IV selama 7 hari;
  2. Penisilin Prokalin 1.5 juta unit IM per 6 jam selama 7 hari;
  3.  Ampisilin 4 X 1 gram iv per hari selama 7 hari;
  4. Terapi suportif dibutuhkan bila terdapat komplikasi seperti gagal ginjal, pendarahan organ (paru, saluran cerna, saluran kemih, serebral) syok dan gangguan neorologi (KEMENKES, 2017).

KESIMPULAN

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Leptospirosis terjadi dikarenakan adanya paparan bakteri Leptospira sp. yang masuk pada tubuh manusia melalui perantara hewan seperti tikus. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian leptospirosis ialah keberadaan genangan air, kondisi selokan, keberadaan tikus, aktivitas di air dan riwayat luka. Pencegahan penyakit leptospirosis dengan melakukan penyuluhan, melindungi para pekerja, mengenali air dan tanah yang berpotensi terkontaminasi, memberantas hewan-hewan pengerat (tikus), memisahkan hewan peliharaan yang terinfeksi, imunisasi kepada hewan ternak dan binatang peliharaan, dan menutupi luka dan lecet dengan pembalut kedap air. Pasien dengan leptospirosis sendiri setidaknya menunjukkan salah satu gejala berikut: sakit kepala, mialgia, ikterus, sufusi konjungtiva, oliguria, meningitis, gagal jantung, dll. Adapun Pentalaksanaan penyakit leptospirosis melibatkan beberapa aspek, termasuk diagnosis, pengobatan dan pencegahan.

Penyusun : Febi Indriyani

Referensi

CDC, 2018. Leptospirosis. Leptospirosis, Fact Sheet for Clinicians, 30 January, pp. 1-4.

Muthiadin, Cut, and Risdayanti Adi Purba. n.d. “Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Leptospirosis Dan Pencegahannya (Review).” 214–20.

 Rampengan, N. H., 2016. Leptospirosis. Jurnal Biomedik, 8(3), pp. 143-150. KEMENKES, 2017. Petunjuk Teknis Pengendalian Leptospirosis. Ketiga ed. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *