
“Dari Ahli ke Masyarakat: Pentingnya Cegah Askariasis dengan Hidup Bersih”
Askariasis bukan sekadar penyakit cacingan biasa — ia adalah ancaman nyata yang mengintai kesehatan jutaan masyarakat, terutama anak-anak di Indonesia. Soil-transmitted Helminths (STH) sering menyebabkan angka kesakitan yang cukup tinggi terutama di negara berkembang. STH yang dapat menyebabkan infeksi diantaranya Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Trichuris trichiura (cacing cambuk), Ancylostoma duodenale dan Necator americanus (cacing tambang) (Harun 2019). Askariasis sendiri merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh parasit Ascaris Lumbricoides yang menghuni usus manusia. Meski sering dianggap remeh, dampak infeksi Ascaris lumbricoides dapat mengurangi kualitas hidup. Penyakit ini menular melalui telur cacing yang mencemari tanah dan makanan, khususnya di daerah dengan sanitasi dan perilaku hidup bersih yang masih kurang. Indonesia merupakan negara dengan risiko tinggi Soil-transmitted Helminths (STH) karena kurangnya lingkungan dengan sanitasi ideal dan kondisi sosial-ekonomi pada beberapa daerah. Selain itu, Indonesia memiliki iklim yang hangat dan lembab sehingga sangat kondusif untuk parasit tumbuh (Lumbantobing, Tuda, and Sorisi 2020)

Data Ilmiah
Menurut hasil penelitian di Sekolah Dasar Negeri Tanjung Duren Selatan 01 Jakarta Barat, prevalensi infeksi askariasis pada siswa ditemukan sebesar 1,1%. Angka ini relatif rendah dibandingkan studi-studi sebelumnya yang pernah mencatat prevalensi hingga 74,7%-80% di Jakarta. Perbedaan ini diduga kuat terkait dengan kualitas sanitasi lingkungan sekolah yang baik dan perilaku kebersihan siswa yang juga terjaga, seperti kebiasaan mencuci tangan, memotong kuku, dan menggunakan alat makan sendiri. (Wandi and Majawati 2021)
Adapun penelitian oleh Mohammad Fithroh Azizy dan rekan dalam penelitian yang memfokuskan pada pemahaman penyakit askariasis di kalangan masyarakat Gen Y dan Gen Z di Jabodetabek. Hasilnya menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang kurang memahami penyakit ini, dengan hanya sekitar 24,35% yang memiliki pengetahuan baik. Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan edukasi dan penyuluhan yang tepat sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan diri dan lingkungan sebagai kunci pencegahan. (Azizy et al. 2022)
Senada dengan penelitian tersebut, penelitian oleh Subahar di Kalibaru, Jakarta Utara, menemukan infeksi A. lumbricoides sebesar 48% pada ibu hamil. Jadi, dengan angka prevalensi tersebut dapat dijadikan indikator bahwa infeksi A. lumbricoides merupakan masalah kesehatan di lokasi tersebut. (Subahar 2012)
Penelitian oleh Rizal Suabahar memperlihatkan prevalensi A. lumbricoides (cacing gelang) dan T. trichiura (cacing cambuk)lebih banyak ditemukan pada ibu dibandingkan dengan bapak baik di Kalibaru dan Cipanas. Ibu lebih banyak mengurus rumah tangga dan anak. Biasanya, ibu menemani anaknya yang sering bermain dengan tanah atau kotoran sehingga ibu lebih sering terpajan telur A. lumbricoides (cacing gelang) dan T.trichiura (cacing cambuk)dibandingkan dengan bapak. Selain itu, ibu dengan pendidikan rendah dan pendapat keluarga yang rendah mengakibatkan ketersediaan air bersih dan toilet menjadi terbatas (Subahar et al. 2017).

Penyebab dan Proses Penularannya
Peneltian oleh Hotez melaporkan bahwa infeksi A. lumbricoides berhubungan dengan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk, terutama ketersediaan toilet dan air bersih yang terbatas (Hotez et al). Di negara berkembang terutama di daerah kumuh dan padat, kontruksi toilet dan saluran air buangannya sangat sederhana sehingga dapat mencemari lingkungan sekitarnya terutama di sekitar rumah. Oleh karena itu, penularan infeksi cacing tersebut dapat terjadi di sekitar rumah. Kondisi sanitasi yang buruk tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan penyakit tersebut. Selain itu kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan ascarisis adalah mencuci tangan.
Telur cacing Ascaris lumbricoides yang menempel di tanah, air, dan makanan merupakan sumber infeksi utama. Anak-anak yang sering bermain di tanah tanpa alas kaki, jajan makanan yang kurang higienis, serta kebiasaan malas mencuci tangan meningkatkan risiko infeksi. Setelah tertelan, telur cacing menetas dan larva bermigrasi melalui paru-paru ke usus halus, menyebabkan iritasi, gangguan pencernaan, hingga sumbatan usus pada kasus berat. (Azizy et al. 2022)
Infeksi ini dapat menyebabkan anemia, gangguan nafsu makan, penurunan berat badan, dan pada anak-anak bisa menghambat tumbuh kembang mental dan fisik yang optimal.
Pencegahan & Pengobatan
Tindakan Promotif yang dilakukan adalah melakukan edukasi atau penyuluhan mengenai penyakit askariasis mulai dari definisi, penyebab, cara penularan, gejala, cara pencegahan dan pengobatan yang benar. Pemberian materi tentang penyakit cacingan ini dilakukan di hari yang ditentukan terdapat 15 orang masyarakat yang berhadir. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Kharin yang mendapati hasil pengetahuan sebelum edukasi dilakukan, didapatkan hasil sebanyak enam orang yang mendapatkan nilai 100%, dua orang yang memperoleh nilai 80%, empat orang yang memperoleh nilai 60%, dan tiga orang yang memperoleh nilai 40%. Berdasarkan hasil dari pengetahuan sebelum edukasi tersebut rata-rata nilai untuk pengetahuan masyarakat terkait penyakit cacingan sebelum pemaparan materi ialah 74,67%. Sedangkan, hasil dari pengetahuan setelah edukasi yang dilakukan, didapatkan hasil sebanyak 14 orang yang mendapatkan nilai 100% dan satu orang yang mendapatkan nilai 60%. Berdasarkan hasil dari pengetahuan setelah edukasi tersebut rata-rata nilai untuk pengetahuan masyarakat terkait penyakit cacingan setelah pemaparan materi ialah 97,33%.(Syaputri et al. 2025).
Untuk penderita askariasis diperlukan tindakan preventif seperti mencuci tangan menggunakan sabun dengan 6 langkah cuci tangan, mencuci buah dan sayur sebelum dimakan, serta teratur minum obat cacing setiap 6 bulan (Mbanga 2019).
Untuk tindakan kuratif askariasis yaitu dengan Pirantel Pamoat 10 mg/kg/BB/hari dosis tunggal, atau Mebendazol 100 mg dua kali sehari, diberikan selama tiga hari berturut-turut, atau Albendazol pada anak diatas 2 tahun dapat diberikan 2 tablet (400mg) atau 20 ml suspense, dosis tunggal, tidakboleh diberikan pada ibu hamil (Al-Tameemi 2020). Diperlukan pula tindakan rehabilitatif seperti memotivasi pasien untuk meminum obat sesuai anjuran dokter dan kontrol ke dokter jika masih ada keluhan (Yousef 2019).
Referensi
AL-TAMEEMI K, KABAKLI R. Ascaris Lumbricoides: Epidemiology, Diagnosis, Treatment, and Control. Asian J Pharm Clin Res. 2020;(April):8-11. doi:10.22159/ajpcr.2020.v13i4.36930
Azizy, Mohammad Fithroh, Amanda Sakinah Faradilla, Annisaa Noviyanti, Atika Safitri, Oziy Hendra Wijaya, Resti Yulia, Mades Fifendy, and Narti Fitriana. 2022. “Analisis Pemahaman Masyarakat Gen Y Dan Gen Z Di Jabodetabek Penyakit Ascariasis.” Prosiding Seminar Nasional Biologi 2(1):342–56.
Harun S, Bedah S, Fasihat IF. Infeksi Nematoda Usus Pada Anak Usia 6-12 Tahun Di Kampung Cipamuruyan Desa Sanghiangdengdek Kecamatan Pulosari Pandeglang. Anakes J Ilm Anal Kesehat. 2019;5(2):198-206. doi:10.37012/anakes.v5i2.348
Lumbantobing, Greva R. I., Josef S. B. Tuda, and Angle M. H. Sorisi. 2020. “Infeksi Cacing Usus Pada Penduduk Lanjut Usia Di Desa Sawangan Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara.” Jurnal Biomedik 12(1):18–23.
Subahar, Rizal, Patra Patiah, Widiastuti Widiastuti, Agus Aulung, and Heri Wibowo. 2017. “PREVALENSI DAN INTENSITAS INFEKSI Ascaris Lumbricoides DAN Trichuris Trichiura PADA ANGGOTA KELUARGA DI JAKARTA DAN CIPANAS, JAWA BARAT.” Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan 11(1):16–25. doi: 10.33533/jpm.v11i1.208.
Syaputri, Kharin Hamida, Okta Muthia, Ahmad Riduan, and Khoirunnisa Muslimawati. 2025. “Peningkatan Pengetahuan Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Cacingan Pada Anak Di Posyandu Balita Kartika.” Jurnal Pelayanan Dan Pengabdian Kesehatan Untuk Masyarakat 2(3):98–103. doi: 10.52643/jppkm.v2i3.5395.
Wandi, and Esther Sri Majawati. 2018. “Studi Prevalensi Infeksi Cacing Ascaris Lumbricoides Pada Siswa SDN Tanjung Duren Selatan 01 Pagi, Jakarta Barat.” Jurnal Kedokteran Meditek 24(65):1–6.

