
Zat radioaktif adalah zat yang memiliki inti atom yang tidak stabil dan secara terus-menerus memancarkan energi dalam bentuk radiasi. Inti atom yang tidak stabil ini berusaha menjadi lebih stabil dengan melepaskan radiasi tersebut, sehingga disebut inti radioaktif. Proses ini disebut peluruhan radioaktif, yaitu ketika inti atom yang tidak stabil berubah menjadi inti atom lain yang lebih stabil.[1]
Zat radioaktif sendiri memiliki kegunaan yang sangat luas, mulai dari bidang kedokteran, industri, hingga energi nuklir, tetapi juga menimbulkan risiko serius jika tidak dikontrol dengan baik. Jadi, zat radioaktif adalah zat yang “memancarkan energi” dari inti atomnya yang berusaha menjadi stabil secara alami.

Jenis Zat Radiaktif
Peluruhan Zat radioaktif dibedakan berdasarkan jenis radiasi yang dipancarkannya, yaitu:
- Peluruhan Alfa (α): Partikel alfa adalah inti helium yang terdiri dari 2 proton dan 2 neutron. Radiasi ini memiliki daya ionisasi tinggi, namun daya tembusnya lemah, hanya mampu menembus selembar kertas.
- Peluruhan Beta (β): Melibatkan elektron yang bermuatan negatif atau positron yang bermuatan positif yang dipancarkan dari inti atom. Radiasi ini memiliki daya tembus lebih tinggi dari alfa dan mampu menembus lapisan alumunium.
- Radiasi Gamma (γ): Bentuk radiasi elektromagnetik dengan energi sangat tinggi dan daya tembus sangat besar, hanya dapat dihalangi oleh bahan padat tebal seperti beton atau baja.
Setiap jenis radiasi ini memiliki efek yang berbeda terhadap tubuh manusia, tergantung pada energi dan cara paparan tersebut.
Dampak Negatif Paparan Zat Radiaktif
Kegiatan-kegiatan manusia yang dapat menyebarkan radionuklida meliputi penambangan batubara, penambangan uranium, penambangan timah, penambangan gas alam, proyek geothermal, kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan vulkanik dan sebagainya. Paparan zat radioaktif sendiri dapat menimbulkan efek yang serius, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
- Dampak Terhadap Manusia
- Rusaknya sel tubuh manusia
Limbah radioaktif berbahaya karena memancarkan radiasi yang dapat merusak tubuh manusia di sekitar sumbernya. Radiasi ini mampu mengionisasi dan merusak sel-sel dalam organ tubuh, yang pada akhirnya mengganggu fungsi normal organ tersebut. Selain itu, ada kemungkinan bahwa sel yang masih hidup namun mengalami perubahan akibat radiasi ini dapat berkembang menjadi tumor atau kanker dalam jangka waktu lama. Kerusakan pada sel juga dapat mempengaruhi genetika manusia, yang berarti mutasi tersebut berpotensi mewariskan ke keturunan dan menyebabkan cacat pada generasi berikutnya.
- Risiko kanker
Eksposur radiasi meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk leukemia, kanker tiroid, paru-paru, kulit, tulang, payudara, dan otak. Anak-anak dan orang muda lebih rentan terhadap risiko ini.
- Sindrom radiasi akut
Paparan dosis tinggi dalam waktu singkat dapat menyebabkan gejala serius seperti mual, muntah, diare, lemas, kerontokan rambut, luka bakar kulit, dan kegagalan fungsi organ yang bisa berakibat fatal.
- Penurunan system imun
Kerusakan sumsum tulang menyebabkan penurunan produksi sel darah putih yang mencakup sistem kekebalan tubuh dan membuat rentan infeksi.
- Gangguan perkembangan anak
Radiasi paparan pada janin dan anak dapat mengganggu perkembangan otak dan sistem saraf, menyebabkan cacat fisik dan mental sejak lahir.
- Mutasi genetik
Radiasi dapat merusak DNA sehingga memicu mutasi genetik yang mengganggu fungsi genetika manusia, sehingga berdampak pada generasi berikutnya, bahkan bisa saja keturunannya mengalami cacat.
- Dampak Terhadap Lingkungan
- Rusaknya struktur tanah
Limbah radioaktif yang terlepas ke dalam tanah dapat merusak struktur tanah dan menyebabkan kontaminasi yang sulit untuk dilakukan pemulihan. Zat radioaktif seperti cesium-137 dan strontium-90 dapat terakumulasi dalam tanah dan diserap oleh tanaman, yang kemudian masuk ke dalam rantai makanan, hal ini dapat membahayakan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.
- Kontaminasi air
Limbah radioaktif yang tidak dikelola dengan baik dapat meresap ke sumber air tanah atau permukaan, menyebabkan kontaminasi air yang berbahaya bagi manusia dan satwa liar. Radionuklida seperti tritium dan plutonium dapat mencemari sungai, danau, serta laut, menyebabkan kerusakan pada organisme air dan mengancam kesehatan manusia yang mengonsumsi air atau makanan laut yang terkontaminasi.
- Mencemari udara
Limbah radioaktif juga dapat mencemari udara jika terjadi kebocoran atau pelepasan zat radioaktif melalui pembakaran atau ledakan. Partikel radioaktif yang terdispersi di atmosfer dapat terhirup oleh manusia dan hewan, menyebabkan risiko kanker dan penyakit lain yang berhubungan dengan radiasi.[2]
Proteksi Radiasi
- Proteksi Terhadap Sumber Eksternal
Sumber radiasi yang berpotensi sebagai sumber radiasi ekternal adalah sumber pemancar sinar-β, pesawat sinar-X, sumber pemancar sinar-γ, dan sumber pemancar neutron. Bahaya radiasi dari sumber-sumber eksternal ini dapat dikendalikan dengan menggunakan tiga prinsip dasar proteksi radiasi, yaitu pengaturan waktu, pengaturan jarak, dan penggunaan perisai.
- Pengaturan Waktu
Pengaturan waktu sangat penting karena semakin lama seorang pekerja berada di dekat sumber radiasi, semakin besar dosis radiasi yang diterimanya. Jadi, waktu kerja di area radiasi harus dikendalikan agar paparan tetap minimal.
- Pengaturan Jarak
Jarak juga sangat berpengaruh terhadap tingkat radiasi yang diterima. Semakin jauh jarak antara pekerja dan sumber radiasi, maka semakin kecil pula radiasi yang diterima, karena radiasi berkurang secara signifikan seiring bertambahnya jarak.
- Penggunaan perisai radiasi
Dalam penanganan sumber radiasi yang sangat kuat, pengaturan waktu dan jarak saja sering kali tidak cukup untuk melindungi pekerja. Oleh karena itu, digunakan perisai radiasi yang terbuat dari bahan khusus yang mampu menyerap atau mengumpulkan radiasi, tergantung pada jenis dan energi radiasi yang dipancarkan. Pemilihan bahan perisai ini harus sesuai dengan karakteristik radiasi yang ada agar perlindungan efektif.
- Proteksi Terhadap Sumber Eksternal
Proteksi terhadap sumber internal merupalan uusaha pencegahan untuk memperkecil jumlah pemasukan bahan radioaktif ke dalam tubuh manusia. Jika zat radioaktif berada dalam keadaan tidak terbungkus rapat, maka zat radioaktif tersebut mempunyai potensi untuk berperan sebagai sumber internal.
- Pengungkungan
Pengungkungan zat radioaktif dilakukan dengan cara yang memastikan bahwa zat tersebut tidak menyebar ke lingkungan sekitar atau ke sumber radiasinya.
- Pemantauan
Jika terjadi pelepasan zat radioaktif ke lingkungan, maka perlu dilakukan pemantauan kandungan zat tersebut di udara, tanah, dan udara. Pemantauan ini bertujuan untuk memastikan bahwa tingkat polusi masih di bawah batas aman yang telah ditentukan. Selain itu, pemantauan juga dilakukan pada rantai makanan yang dikonsumsi manusia, termasuk udara minum dan udara. Pemantauan juga diperlukan di dalam tubuh manusia untuk mencerminkan dosis radiasi yang diterima dari sumber internal.
- Pakaian Pelindung
Pakaian pelindung menjadi alat penting dalam proteksi radiasi agar paparan radiasi pada pekerja tidak melebihi batas yang. Dalam penanganan sumber radiasi yang terbuka, pekerja harus menggunakan perlengkapan khusus seperti jas laboratorium, sarung tangan, sepatu atau pelindung sepatu, terutama di area yang kemungkinan terkontaminasi.
- Pelindung Pernapasan
Jika pekerja berisiko terpapar zat radioaktif dalam bentuk gas dengan konsentrasi tinggi di udara, mereka wajib menggunakan alat pelindung pernapasan. Terdapat dua jenis pelindung pernapasan, yakni respirator dengan filter dan masker seluruh wajah. Ini penting karena debu radioaktif yang terhirup sangat berbahaya; sebagian besar partikel akan menempel di paru-paru dan masuk ke aliran darah melalui saluran pernapasan dan sebagian tertelan melalui saluran pencernaan.[3]
Penulis : Febi Indriyani
REFERENSI
Ii, B A B. “TEORI DASAR,” n.d., 5–13.
Malaka, Muhlis. “Dampak Radiasi Radioaktif Terhadap Kesehatan.” Foramadiahi: Jurnal Kajian Pendidikan Dan Keislaman 11, no. 2 (2019): 199. https://doi.org/10.46339/foramadiahi.v11i2.204.
Pramono, Eko Yudho, and Waringin Margi Yusmaman. “Dampak Limbah Radioaktif Terhadap Lingkungan Dan Upaya Mitigasi Risikonya.” Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI 6, no. 1 (2025): 10–16. https://doi.org/10.31315/psb.v6i1.14471.
[1] B A B Ii, “TEORI DASAR,” n.d., 5–13.
[2] Eko Yudho Pramono and Waringin Margi Yusmaman, “Dampak Limbah Radioaktif Terhadap Lingkungan Dan Upaya Mitigasi Risikonya,” Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI 6, no. 1 (2025): 10–16, https://doi.org/10.31315/psb.v6i1.14471.
[3] Malaka.

