
Tikus sering dianggap hanya sebagai hama yang mengganggu kebersihan rumah dan lingkungan. Namun, di balik keberadaannya, hewan pengerat ini juga dapat membawa berbagai penyakit yang berbahaya bagi manusia. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah hantavirus. Meski namanya belum banyak dikenal oleh masyarakat, virus ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius dan telah ditemukan di Indonesia sejak puluhan tahun lalu.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang secara alami hidup pada beberapa jenis hewan pengerat, terutama tikus. Manusia dapat terinfeksi ketika menghirup udara yang terkontaminasi oleh partikel dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang mengandung virus. Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi saat seseorang menyentuh benda atau permukaan yang terkontaminasi, terutama jika terdapat luka pada kulit. Karena proses penularannya sering kali tidak disadari, banyak orang berisiko terpapar tanpa mengetahui sumber infeksinya.
Keberadaan hantavirus di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa virus ini telah ditemukan pada manusia maupun populasi tikus di sejumlah wilayah sejak tahun 1980-an. Temuan tersebut menunjukkan bahwa hantavirus masih beredar di lingkungan dan berpotensi menimbulkan infeksi pada manusia. Namun, jumlah kasus yang tercatat kemungkinan belum mencerminkan kondisi sebenarnya karena penyakit ini sering sulit dikenali dan tidak selalu terdiagnosis secara spesifik.
Banyak orang menganggap hantavirus sebagai penyakit yang hanya ditemukan di luar negeri. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa virus ini juga telah lama ada di Indonesia. Beberapa studi menemukan bahwa sekitar satu dari sepuluh orang pernah terpapar hantavirus. Meski demikian, tidak semua orang yang terpapar mengalami gejala yang jelas atau mendapatkan diagnosis sebagai penderita hantavirus. Pada populasi tikus sebagai pembawa utama virus, tingkat infeksi juga ditemukan cukup bervariasi, mulai dari sangat rendah hingga mencapai sekitar 34 persen di beberapa wilayah. Kondisi ini menunjukkan bahwa hantavirus masih berpotensi menjadi ancaman kesehatan, terutama di daerah dengan populasi tikus yang tinggi.
Salah satu alasan hantavirus sering luput dari perhatian adalah karena gejalanya mirip dengan berbagai penyakit lain yang lebih umum ditemukan di Indonesia. Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, dan kelelahan yang berlebihan. Gejala-gejala tersebut sering menyerupai demam berdarah, tifoid, maupun leptospirosis sehingga hantavirus tidak jarang sulit dibedakan dari penyakit lainnya. Akibatnya, sebagian kasus kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tepat.
Apabila infeksi berkembang menjadi lebih berat, hantavirus dapat menimbulkan komplikasi yang serius. Beberapa jenis hantavirus dapat menyebabkan gangguan pada ginjal dan pembuluh darah yang dikenal sebagai Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Sementara itu, jenis lainnya dapat menyerang paru-paru dan menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu kondisi yang dapat berkembang menjadi gagal napas akut. Pada kasus yang berat, penyakit ini memiliki risiko kematian yang cukup tinggi sehingga memerlukan penanganan medis secepat mungkin.
Risiko penyebaran hantavirus juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Permukiman yang padat, sanitasi yang kurang baik, serta pengelolaan sampah yang tidak optimal dapat menjadi tempat yang ideal bagi tikus untuk berkembang biak. Selain itu, meningkatnya aktivitas manusia dan perkembangan kawasan permukiman turut memperbesar kemungkinan terjadinya kontak antara manusia dan hewan pengerat. Oleh karena itu, upaya pencegahan hantavirus tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan, tetapi juga memerlukan perhatian terhadap kebersihan lingkungan dan perilaku hidup masyarakat.
Pencegahan hantavirus dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta mengurangi keberadaan tikus di sekitar tempat tinggal merupakan cara yang dapat membantu menurunkan risiko penularan. Saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi kotoran tikus, penggunaan masker dan sarung tangan juga dianjurkan untuk mengurangi kemungkinan terpapar virus. Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai penyakit yang ditularkan oleh hewan pengerat perlu terus ditingkatkan agar kesadaran dan kewaspadaan terhadap hantavirus semakin baik.
Meskipun belum banyak dibicarakan dibandingkan penyakit menular lainnya, hantavirus tetap merupakan ancaman kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Keberadaannya yang sering tidak terdeteksi, gejala yang menyerupai penyakit lain, serta potensi komplikasi yang serius membuat penyakit ini perlu mendapat perhatian lebih. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, menjaga kebersihan lingkungan, dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang tepat, risiko penularan hantavirus dapat ditekan sehingga kesehatan masyarakat dapat lebih terlindungi.
Sumber
BKPK Kementerian Kesehatan RI. (2026). Hantavirus: Virus dari Tikus yang Mematikan, Siapkah Indonesia Menghadapinya?

