DEMAM LASSA : INFEKSI VIRUS DARI URINE DAN FESES TIKUS
DEMAM LASSA : INFEKSI VIRUS DARI URINE DAN FESES TIKUS

DEMAM LASSA : INFEKSI VIRUS DARI URINE DAN FESES TIKUS

Hallo sobat KSR di manapun berada 🙌🏻

Jumpa lagi di website resmi KSR PMI Unit UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto nih🥰Kali ini kita akan membahas tema yang menarik dan tentunya berkaitan dengan kesehatan terkini. Penasaran? Mari kita baca sampai selesai yaa😍 Enjoy and happy reading!

Apa itu demam lassa? Melansir dari situs kementerian kesehatan RI, Demam lassa merupakan penyakit zoonosis, yaitu manusia terinfeksi dari kontak dengan hewan yang terinfeksi. Reservoir atau inang dari virus Lassa adalah hewan dari genus Mastomys, spesies Mastomys natalensis umumnya dikenal sebagai tikus multimammate. Tikus Mastomys yang terinfeksi dengan virus Lassa tidak menjadi sakit, tetapi mereka dapat menularkan virus dalam urin dan tinja mereka. Masa inkubasi Demam Lassa berkisar 6-21 hari. Gejalanya bertahap, dimulai dengan demam, kelemahan umum, dan malaise. Setelah beberapa hari, timbul sakit kepala, sakit tenggorokan, nyeri otot, nyeri dada, mual, muntah, diare, batuk, dan juga bisa disertai sakit perut. Dalam kasus yang parah dapat terjadi pembengkakan wajah, terdapat cairan dalam rongga paru-paru, pendarahan dari mulut, hidung, saluran vagina atau pencernaan dan tekanan darah rendah.

Bagaimana Penyebarannya?
Tikus pembawa virus lassa sangat mudah berkembang biak. Penularan virus Lassa dari tikus ke manusia bisa terjadi dalam kondisi-kondisi seperti berikut ini

  1. Kontak langsung dengan menyentuh benda atau mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi urine dan feses tikus yang terinfeksi.
  2. Inhalasi, yaitu menghirup partikel kecil di udara yang telah terkontaminasi urine dan feses tikus yang terinfeksi.
  3. Luka terbuka yang terkena urine dan feses tikus yang terinfeksi

Selain yang disebutkan di atas, penularan demam Lassa juga berpotensi terjadi antarmanusia. Penularan dapat terjadi setelah kontak langsung dengan virus pada darah, urine, atau feses orang yang terinfeksi. Melakukan kontak biasa tanpa adanya pertukaran cairan tubuh tidak dapat menyebarkan virus Lassa.

Apa Komplikasi yang Ditimbulkan?

  1. Ketulian, merupakan komplikasi paling umum yang terjadi pada penderita demam lassa. Kondisi ini terjadi pada sekitar 25% pasien sembuh, dengan fungsi pendengaran kembali normal setelah 1–3 bulan.
  2. Kerontokan rambut sementara dan gangguan gaya berjalan bisa saja terjadi selama proses pemulihan.
  3. Kematian, umumnya terjadi dalam 14 hari pada kasus yang fatal.

Bagaimana Pengobatannya?
Demam Lassa diobati dengan obat antivirus ribavirin, serta perawatan suportif seperti istirahat, hidrasi, dan transfusi darah. Ribavirin adalah obat antivirus spektrum luas yang aktif melawan virus RNA dan khususnya digunakan untuk mengobati hepatitis C.

Demam Lassa memang bukan penyakit endemik di Indonesia, tetapi kita perlu waspada terhadap penyebarannya. Mengetahui gejala infeksi virus Lassa dapat membantu kita mencegah timbulnya komplikasi dengan lebih awal.

Stay Healthy!! Sehatkan generasi produktif dan Salam Kepalangmerahan⛑ Semoga bermanfaat ☺🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *