ISPA di Tengah Kabut Asap Karhutla: Ancaman bagi Kesehatan Masyarakat
ISPA di Tengah Kabut Asap Karhutla: Ancaman bagi Kesehatan Masyarakat

ISPA di Tengah Kabut Asap Karhutla: Ancaman bagi Kesehatan Masyarakat

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Indonesia. Selain merusak lingkungan, karhutla juga menghasilkan asap yang dapat menurunkan kualitas udara dan berdampak pada kesehatan masyarakat. Salah satu gangguan kesehatan yang banyak ditemukan di wilayah terdampak adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga 21 September 2026 terdapat 174.694 kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla, dengan 40.363 kasus terjadi pada balita. Kasus tersebut tercatat di sejumlah provinsi yang terdampak karhutla, seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Data ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menjadi persoalan kesehatan masyarakat.

Asap karhutla mengandung berbagai polutan, salah satunya PM2.5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Menurut World Health Organization (WHO), paparan asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas, dan memperburuk penyakit seperti asma. Asap juga dapat menyebar jauh dari lokasi kebakaran sehingga dampaknya tidak selalu dirasakan hanya oleh masyarakat yang berada di sekitar titik api.

Kelompok tertentu perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk, terutama anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung. Paparan asap pada kelompok tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat dapat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika udara sedang tidak sehat, menggunakan masker saat harus keluar, serta memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi. Jika muncul keluhan seperti batuk yang terus-menerus, sesak napas, atau napas berbunyi, sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

Karhutla sendiri masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia sepanjang September 2026. BNPB melaporkan kejadian karhutla di berbagai daerah, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa. Kondisi kering, angin, suhu yang tinggi, serta keterbatasan sumber air menjadi beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko meluasnya kebakaran.

Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian bersama. Upaya pencegahan kebakaran, pengendalian kualitas udara, serta perlindungan masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Jaga kesehatan, pantau kualitas udara, dan jangan abaikan gejala gangguan pernapasan selama kondisi kabut asap masih berlangsung.

Referensi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2026). Perkembangan situasi dan penanganan karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. BNPB

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Informasi dan penanganan dampak kesehatan akibat karhutla. Kementerian Kesehatan RI

World Health Organization. (2026, July 31). Wildfires. World Health Organization

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *