
Indonesia termasuk salah satu negara yang paling rawan bencana di dunia karena letaknya di wilayah Cincin Api Pasifik dan pergerakan lempeng tektonik aktif. Fenomena ini menyebabkan berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor yang berulang kali terjadi di berbagai wilayah Nusantara termasuk Sumatera. Kondisi ini diperparah oleh variabilitas cuaca ekstrem dan perubahan iklim yang memperbesar risiko kejadian bencana alam.
Pada Bencana Sumatera 2025, sejumlah provinsi seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menghadapi banjir besar dan tanah longsor yang menyebabkan ratusan korban luka dan ribuan rumah terdampak, mengguncang struktur sosial dan kesehatan masyarakat di wilayah itu. Data awal lapangan menunjukkan ribuan korban luka-luka dan ratusan orang meninggal dunia, serta infrastruktur kesehatan yang kewalahan menangani kondisi darurat ini.
Dalam konteks tersebut, edukasi kesehatan dan mitigasi bencana menjadi dua pilar penting dalam upaya pencegahan dampak kesehatan secara langsung dan tidak langsung. Tanpa pemahaman masyarakat mengenai risiko bencana dan tindakan kesehatan yang tepat, dampak kesehatan masyarakat dapat meningkat tajam, termasuk penyakit menular, gangguan mental, dan beban pada layanan kesehatan.
1. Kaitan Mitigasi Bencana dan Kesehatan MasyarakatMitigasi bencana merupakan strategi proaktif untuk mengurangi risiko dan dampak bencana sebelum terjadi, termasuk pada aspek kesehatan masyarakat. Mitigasi yang efektif mencakup peningkatan pemahaman risiko bencana, kesiapan evakuasi, sanitasi darurat, hingga pengelolaan sumber daya kesehatan yang cepat dan tepat. Menurut kajian kesehatan di Indonesia, kesiapsiagaan bencana termasuk komponen penting dalam mengurangi cedera, jumlah korban, serta mencegah masalah kesehatan pasca bencana seperti infeksi, malnutrisi, maupun gangguan psikososial (Puspitasari et al., 2025).
2. Peran Edukasi Kesehatan dalam MitigasiEdukasi kesehatan merupakan salah satu bentuk mitigasi yang terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi bencana. Beberapa penelitian pengabdian masyarakat menunjukkan hasil positif dari kegiatan edukasi, seperti:
• Kegiatan edukasi kesehatan pada masyarakat Desa Dorang yangmeningkatkan pemahaman masyarakat tentang tipe penyakit menulardan cara pencegahannya setelah banjir, dengan peningkatan skorpengetahuan hingga >80% setelah diberikan edukasi (Yulia et al., 2025).
• Edukasi mitigasi bencana di sekolah dasar dan komunitas lokal terbuktimeningkatkan kesiapsiagaan dan pemahaman anak-anak tentanglangkah-langkah menghadapi bencana, seperti gempa bumi dan banjir yang lazim terjadi di wilayah rawan (Rahayu et al., 2024).
Berdasarkan kajian sistematis, model edukasi kesehatan yang efektif saat bencana harus mengintegrasikan langkah kesiapsiagaan, kesehatan dasar, serta tindakan respon cepat yang dilakukan secara berkesinambungan dalam masyarakat (Nugroho et al., 2025).
3. Relevansi dengan Bencana Sumatera 2025Data lapangan terkait Bencana Sumatera 2025 menunjukkan tingginya angka korban luka dan kebutuhan layanan kesehatan yang mendesak di lokasi bencana. Situasi ini menggarisbawahi pentingnya:
• Pengetahuan dasar kesehatan seperti pencegahan infeksi, pertolonganpertama, dan sanitasi darurat di pengungsian.
• Kemampuan mitigasi bencana berbasis komunitas, termasuk jalurevakuasi, rencana keluarga, dan koordinasi layanan kesehatan.
• Kesiapan petugas kesehatan di fasilitas kesehatan primer untukmengelola beban pasien darurat.Terlebih lagi, tanpa edukasi kesehatan yang memadai, korban bencana cenderung mengalami komplikasi kesehatan berkelanjutan seperti infeksi kulit, gangguan pernapasan, hingga trauma psikologis—yang membutuhkan intervensi khusus dan sumber daya yang besar.
Edukasi kesehatan dan mitigasi bencana adalah dua pilar saling melengkapi dalam mengurangi dampak kesehatan dari bencana besar seperti Bencana Sumatera 2025. Keduanya bukan sekadar program satu kali, tetapi investasi jangka panjang untuk ketahanan masyarakat terhadap ancaman alam yang terus menerus.
Pemerintah, lembaga kesehatan, sekolah, dan komunitas harus bersama-sama memastikan bahwa pesan edukatif dan strategi mitigasi bencana tersampaikan secara luas dan berkelanjutan, terutama di wilayah yang rawan bencana. Dengan demikian, saat bencana terjadi kembali, masyarakat tidak hanya selamat secara fisik tetapi juga sehat secara keseluruhan.
Referensi:
Nugroho, E., Istiada, A., Nisa, A. A., & Hermawan, D. Y. (2025). Health Education Model in Disaster Situations : Systematic Review. MPPKI: Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia, 8(1), 29–41. https://doi.org/10.56338/mppki.v8i1.6427
Puspitasari, P., Amrullah, J. F., & Lukitasari, D. (2025). IMPLEMENTASI PLAY BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN KESIAPSIAGAAN BENCANA. HealthCaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan, 04(01), 25–35.
Rahayu, M. S., Utariningsih, W., & Wahyuni, S. (2024). Edukasi Mitigasi Bencana Melalui Sosialisasi Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi Bagi Siswa Sekolah Dasar. AUXILIUM: Jurnal Pengabdian Kesehatan, 2(2), 18–22.
Yulia, F., Sari, K., & Khoiriyah, N. (2025). Edukasi Kesehatan pada Masyarakat Desa Dorang sebagai Mitigasi Bencana Banjir Health Education for the Dorang Village Community as Flood Disaster Mitigation. PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat, 10(4), 1066–1071

