Diabetes Melitus Tipe 2 pada Remaja: Ancaman Nyata di Usia Muda
Diabetes Melitus Tipe 2 pada Remaja: Ancaman Nyata di Usia Muda

Diabetes Melitus Tipe 2 pada Remaja: Ancaman Nyata di Usia Muda

Menurut WHO, diabetes merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (atau gula darah), yang seiring waktu menyebabkan kerusakan serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf. Diabetes sendiri terbagi menjadi beberapa tipe, di antaranya diabetes tipe 1, tipe 2, dan diabetes gestasional. Diabetes melitus merupakan istilah yang mencakup diabetes tipe 1 dan tipe 2 yang paling umum ditemukan.

Secara global, jumlah penderita diabetes melitus tipe 2 terus mengalami peningkatan. Awalnya, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada orang dewasa dan lanjut usia, tapi dalam beberapa dekade terakhir kasus diabetes tipe 2 pada anak-anak dan remaja meningkat secara signifikan (Bn, 2025). Hal ini menjadi perhatian penting dalam bidang kesehatan masyarakat, karena remaja adalah kelompok usia produktif yang menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Berdasarkan literatur review tahun 2025 yang dipublikasikan di jurnal ITK Avicenna, terdapat peningkatan signifikan jumlah kasus DM tipe 2 pada remaja selama beberapa dekade terakhir (Bn, 2025). Data dari International Diabetes Federation (2021) menunjukkan sekitar 14,6 juta remaja didiagnosis dengan DM tipe 2 secara global dengan prevalensi 1,19% dari populasi remaja. Angka ini meningkat lebih dari 2,5 kali lipat sejak tahun 1990, seiring dengan meningkatnya prevalensi obesitas dan kelebihan berat badan pada anak-anak dan remaja yang menjadi faktor utama terjadinya DM tipe 2 pada usia muda.

Peningkatan ini erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup modern seperti konsumsi makanan tinggi kalori dan gula berlebihan, serta kurangnya aktivitas fisik akibat banyak menghabiskan waktu di depan layar gadget.

Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi diabetes berdasarkan diagnosis dokter maupun pemeriksaan kadar gula darah pada tahun 2023 mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2018. Proporsi penderita diabetes tipe 2 lebih dominan dibandingkan dengan diabetes tipe 1. Berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah, prevalensi diabetes pada kelompok usia 15 tahun ke atas mencapai 11,7% pada tahun 2023, naik dari 10,9% pada tahun 2018. Diabetes melitus tipe 2 pada usia muda paling sering muncul pada dekade kedua kehidupan dengan rata-rata usia sekitar 13,5 tahun. Hal ini erat kaitannya dengan masa pubertas, di mana terjadi peningkatan resistensi insulin secara fisiologis. Studi SEARCH for Diabetes in Youth Population juga menemukan bahwa angka diabetes tipe 2 tertinggi terdapat pada kelompok usia 10-19 tahun  (Mandiri et al., 2024) (Pulungan, 2018).

Faktor Risiko Utama

Obesitas sentral dan gaya hidup sedentari seperti kurangnya aktivitas fisik dan pola makan tinggi kalori serta gula menjadi faktor utama yang menyebabkan resistensi insulin pada remaja.

Selain obesitas, faktor risiko lain yang berperan adalah riwayat keluarga, hipertensi, dan kebiasaan merokok. Kondisi ini menyebabkan DM tipe 2 tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental remaja seperti kecemasan dan stres.

Gejala Diabetes Tipe 2 pada Remaja

Gejala yang sering muncul antara lain:

  • Rasa haus dan lapar berlebihan
  • Sering buang air kecil
  • Berat badan turun tanpa sebab jelas
  • Mudah lelah dan penglihatan kabur

Jika tidak segera ditangani, diabetes tipe 2 dapat menyebabkan komplikasi serius seperti gangguan penglihatan, kerusakan ginjal, dan penyakit jantung bahkan sebelum usia 30 tahun.

Pencegahan dan Penanganan

Pencegahan DM tipe 2 pada remaja sangat penting dan harus dimulai sejak dini, pencegahan tersebut bisa dilakukan dengan langkah sederhana:

  • Mengadopsi pola makan seimbang rendah gula dan lemak jenuh.
  • Meningkatkan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari.
  • Menghindari kebiasaan merokok dan mengelola stres dengan baik.
  • Rutin memantau kadar gula darah, terutama bagi remaja dengan faktor risiko tinggi.
  • Mendapatkan tidur yang cukup dan mengelola stres

Penanganan yang efektif juga melibatkan edukasi kesehatan bagi remaja dan keluarga serta pendekatan multidisipliner yang melibatkan tenaga medis, ahli gizi, dan psikolog.

Pentingnya Diagnosis Dini

Deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang bagi remaja yang mengidap diabetes tipe 2. Konsultasikan ke dokter jika remaja menunjukkan gejala-gejala diabetes agar mendapat pengobatan dan perawatan yang tepat.

Dengan kesadaran dan perubahan gaya hidup sehat sejak dini, risiko diabetes tipe 2 pada remaja bisa dicegah dan dikendalikan sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan produktif

Diabetes Melitus tipe 2 pada remaja merupakan kondisi kronis yang prevalensinya terus meningkat karena perubahan gaya hidup modern. Data terbaru menegaskan pentingnya langkah pencegahan melalui pola hidup sehat. Dengan upaya bersama untuk meningkatkan kesadaran dan melakukan tindakan pencegahan sedini mungkin, kita dapat menekan angka kejadian dan komplikasi diabetes tipe 2, sehingga generasi muda dapat tumbuh dan berkembang dengan kualitas hidup yang optimal dan produktif.

Penulis: Febi Indriyani

REFERENSI

Bn, I. R. (2025). Trend Diabetes Melitus Tipe 2 pada Remaja : Literatur Review. 4(3).

Mandiri, J. S., Maharani, A., Sholih, M. G., Kesehatan, F. I., & Singaperbangsa, U. (2024). LITERATURE REVIEW : FAKTOR RISIKO PENYEBAB DIABETES MELITUS TIPE II. 19(1), 185–197.

International Diabetes Federation. (2021). IDF Guide for Diabetes Epidemiological Studies. https://idf.org/our-activities /epidemiology-research/idf-guide-for diabetes-epidemiology-studies.html

Pulungan AB, Afifa IT, Annisa D. Type 2 diabetes mellitus in children and adolescent: An Indonesian perspective. Vol. 23, Annals of Pediatric Endocrinology and Metabolism. Korean society of pediatric endocrinology; 2018. p. 119–25.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *