Makanan Ultraproses dan Paparan BPA: Ancaman Kesehatan yang Sering Terabaikan
Makanan Ultraproses dan Paparan BPA: Ancaman Kesehatan yang Sering Terabaikan

Makanan Ultraproses dan Paparan BPA: Ancaman Kesehatan yang Sering Terabaikan

Di era modern ini, gaya hidup serba cepat membuat makanan ultraproses semakin populer. Makanan ultraproses (UPF) semakin menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir akibat pengaruhnya yang besar terhadap kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Namun, di balik kemudahan dan kepraktisan tersebut, tersembunyi ancaman kesehatan yang sering kali terabaikan, yaitu paparan bahan kimia berbahaya seperti BPA (Bisphenol A).

Apa itu Makanan Ultraproses?

UPF didefinisikan sebagai produk makanan yang mengalami pengolahan industri yang signifikan dan mengandung bahan tambahan yang tidak ditemukan dalam masakan rumah tangga, seperti pewarna sintetis, pemanis buatan, dan pengawet. UPF cenderung mengandung sedikit atau bahkan tidak ada bahan makanan asli, dan lebih sering mengandung bahan-bahan yang diproses melalui proses kimia yang panjang1.

Berbagai studi epidemiologis mengaitkan konsumsi makanan ultraproses dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolik lainnya. Peluang terjadinya peradangan kronis juga meningkat karena pola makan yang dominan UPF. Penelitian oleh Lane (2024) menyebutkan bahwa kenaikan prevalensi obesitas global berkaitan dengan pola makan modern yang makin didominasi makanan ultra-proses (UPF)—tinggi gula, lemak, garam, aditif; rendah serat dan mikronutrien2.

Paparan BPA dalam Kemasan Makanan

Bisphenol A (BPA) adalah bahan kimia yang sering digunakan dalam pembentukan plastic polikarbonat dan epoxy resins, sebagai antioksidan atau penstabil dalam polivinilklorida (PVC)3. Plastik polikarbonat sering digunakan pada berbagai macam produk contohnya tempat makan bayi, botol minum dan lain lain, sedangkan epoxy resin sering digunakan untuk pelapis bagian dalam dari kaleng makanan atau minuman yang digunakan untuk menghindari kontak langsung antara makanan atau minuman tersebut dengan logam dan untuk melindungi kaleng dari korosi4. BPA merupakan salah satu endocrine disrupting compound (EDC) yang dapat menyebabkan masalah kesehatan, diantaranya yaitu hipertensi, obesitas, diabetes dan kanker.

BPA dalam kemasan pangan dapat berpindah kedalam makanan ataupun minuman dengan adanya proses sterilisasi pada kaleng, pada proses penyimpanan. Berpindahnya BPA dari kemasan kedalam makanan atau minuman dapat ditemukan dalam produk pangan kaleng

seperti sayuran kaleng, minuman ringan kaleng, produk ikan dan daging kaleng, kopi kaleng, saus 5. Selain itu ditemukan juga BPA dalam kemasan kertas, plastic, meskipun jumlahnya tidak lebih banyak dibandingkan dengan kemasan kaleng6.

Ketika BPA masuk kedalam tubuh maka akan dimetabolisme oleh tubuh, pada fase pertama metabolisme yaitu di tractus gastrointestinal dan hati. Setelah BPA diabsorbsi sempurna di tractus gastrointestinal maka akan mengalami konjugasi dengan asam glukoronat di hati menjadi bentuk inaktifnya. Sebagian kecil dari BPA akan berikatan dengan sulfat sehingga menjadi BPA sulfat. Setelah itu BPA akan terkonjugasi dan mengalami proses detoksifikasi, dan bentuk bebas dari BPA menunjukan sifat estrogeniknya. Bentuk BPA terkonjugasi akan masuk kedalam sirkulasi kemudian masuk ginjal dan akan diekresikan dalam urin7.

Keterkaitan Makanan Ultraproses dan BPA

Makanan ultraproses sering dikemas dalam bahan plastik yang mengandung BPA. Konsumsi rutin makanan ini berarti kita tidak hanya mendapatkan zat-zat kimia dari bahan makanan itu sendiri, tetapi juga paparan tambahan dari kemasan plastiknya. Hal ini membuat risiko kesehatan semakin meningkat tanpa disadari banyak orang. Senyawa BPA dapat bermigrasi dari kemasan ke dalam makanan, terutama saat kemasan dipanaskan atau rusak, sehingga konsumen secara tidak langsung terpapar bahan kimia yang dikenal sebagai disruptor endokrin ini. Paparan BPA yang berulang berpotensi merusak sistem hormonal dan metabolisme tubuh.

Secara ilmiah, kombinasi antara pola makan yang tinggi konsumsi UPF dan paparan BPA berpotensi meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, gangguan reproduksi, serta penyakit kronis lainnya. UPF yang kaya akan kalori kosong (gula, lemak jenuh) dapat menyebabkan kegemukan, sementara BPA mengganggu fungsi hormon yang mengatur metabolisme energi dan penyimpanan lemak, sehingga efek gabungan keduanya memperbesar risiko penyakit metabolik8. Sehingga, makanan ultraproses tidak hanya berdampak buruk dari segi nutrisi, tapi juga menjadi jalur paparan senyawa kimia berbahaya seperti BPA yang berasal dari kemasannya. Penelitian ini memperkuat pentingnya pendekatan holistik dalam mengurangi konsumsi UPF sekaligus menghindari kontak dengan bahan kemasan mengandung BPA demi mencegah gangguan kesehatan jangka panjang9.

Strategi Mengurangi Risiko dan Rekomendasi Konsumsi

Menghadapi ancaman kesehatan ganda dari makanan ultraproses dan paparan BPA membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, baik dari individu maupun kebijakan publik:

  • Pengurangan Konsumsi UPF: Prioritaskan makanan segar dan olahan rumah tangga yang minim pengolahan dan bebas bahan tambahan sintetis.
  • Penghindaran Kemasan Berbahan Plastik BPA: Gunakan wadah penyimpanan dari kaca, stainless steel, atau plastik bebas BPA.
  • Pendidikan Konsumen: Tingkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko UPF dan BPA serta cara mengidentifikasi produk yang aman.
  • Regulasi Pemerintah: Dorong pembatasan penggunaan BPA dalam kemasan makanan dan substitusi dengan alternatif bahan yang aman

REFERENSI

1 Monteiro CA, Cannon G, Levy RB, Moubarac JC, Louzada ML, Rauber F, Khandpur N, Cediel G, Neri D, Martinez-Steele E, Baraldi LG, Jaime PC. Ultra-processed foods: what they are and how to identify them. Public Health Nutr. 2019 Apr;22(5):936-941

2 Kenaikan prevalensi obesitas global berkaitan dengan pola makan modern yang makin didominasi makanan ultra-proses (UPF)—tinggi gula, lemak, garam, aditif; rendah serat dan mikronutrien—yang berbagai studi kohort dan tinjauan payung kaitkan dengan peningkatan risiko obesitas dan luaran kardiometabolik lain (Lane et al., 2024; Vitale et al., 2024)

3Aulia, Gina, and Soraya R Mita. “Review Artikel: Pengaruh Bisphenol-A (BPA) Dalam Kemasan Pangan Terhadap Kesehatan.” Farmaka 21, no. 1 (2018): 43–49.

4Manolis N. Tzatzarakis, Vasiliki Karzi, Elena Vakonaki, Marina Goumenou, Matthaios Kavvalakis, Polychronis Stivaktakis, Christina Tsitsimpikou, Ioannis Tsakiris, Apostolos Rizos & Aristidis M. Tsatsakis. 2016. Bisphenol A in Soft Drinks and Canned Foods and Data Evaluation. Food Additives & Contaminants: Part B.

5Sungur, Sana., Koroglu, Muaz., Ozkan, Abdo. 2014. Determination of Bisphenol A Migrating From Canned Food and Beverages in Market. Food Chemistry: Vol 142.

6Almeida, Susana., Raposo, Antonio, Raposo. Gomzales, Maira Almeida., Carrascosa, Conrado. 2018. Bisphenol A : Food Exposure and Impact on Human Health. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety, Vol. 0. Institute of Food Technologist.

7Perdana, Waldy Yudha., Jcobus, Danny Jaya. 2016. Bishenol-A adalah Endocrin Disrupture Chemical yang berperan sebagai agen diabetogenic. CDK-244: Vol. 43(9

8Diba, Farah. “Makanan Ultra-Proses, Inovasi Dalam Industri Makanan Modern Ultra-Processed Foods, Inovation in the Modern Food Industry.” Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan-Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara 24, no. 1 (2025): 191–201. https://www.jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/798.

9Setyaningsih, Aryanti, Indri Mulyasari, Puji Afiatna, Happy Risa Putri, and Mann Whitney. “OPEN Hubungan Konsumsi Makanan Olahan Ultra Proses Dengan Kualitas Diet Dan Status Gizi Lebih Pada Usia Dewasa Muda The Relationship between Ultra-Processed Food Consumption with Diet Quality and Overweight Status in Young Adults” 8, no. 1 (2024): 124–29. https://doi.org/10.20473/amnt.v8i1.2024.124-129.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *