Kenali Perbedaan Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue
Kenali Perbedaan Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue

Kenali Perbedaan Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue

Kenali Perbedaan Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue

Masyarakat sering kali salah dalam mengartikan demam dengue dan demam berdarah. Walaupun sekilas mirip, demam dengue dan demam berdarah dengue adalah dua kondisi yang berbeda. Penyakit ini memang sama-sama punya gejala khas, yakni demam. Selain itu, menurut dr. Alvin Nursalim, SpPD dari KlikDokter.com, memang juga sama-sama disebabkan oleh virus dengue.

“Baik demam dengue dan DBD itu sama-sama disebabkan virus dengue. Perbedaannya pada spektrumnya. Spektrum itu maksudnya apa? Itu tingkat keparahan dari penyakit,” ujar dr. Alvin. Lantas, apa saja perbedaannya?

Indonesia merupakan negara tropis dengan populasi nyamuk yang tinggi. Memasuki April 2025, Kementerian Kesehatan RI mencatat, hingga 13 April 2025 ada 38.740 kasus DBD dengan 182 kematian.

Demam Dengue (DD) adalah infeksi virus dengue yang umumnya menyebabkan demam tinggi, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, dan ruam ringan. Penurunan trombosit terjadi, tetapi tanpa disertai kebocoran plasma yang signifikan. Adapun Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah bentuk berat dari infeksi virus dengue yang ditandai dengan kebocoran plasma akibat kerusakan pembuluh darah, penurunan trombosit drastis (<100.000/mm³), dan manifestasi perdarahan yang nyata seperti mimisan, gusi berdarah, dan ruam petekie

Gejala

Demam dengue biasanya berlangsung 2-7 hari dengan gejala demam tinggi, nyeri otot dan sendi, serta ruam ringan. Penurunan trombosit ada tetapi hematokrit tetap normal atau sedikit naik karena dehidrasi. (Ii, n.d.). Beberapa gejala umum yang terjadi, yaitu:

  • Demam tinggi (>40ºC)
  • Sakit kepala
  • Sakit di belakang mata
  • Kelenjar getih bening bengkak
  • Mual dan muntah

Demam berdarah dengue menunjukkan gejala lebih berat, seperti perdarahan spontan (petekie, mimisan, gusi berdarah), dan tanda-tanda kebocoran plasma yang menyebabkan penumpukan cairan di rongga tubuh (efusi pleura, asites) serta penurunan tekanan darah yang dapat berujung pada syok. (Nurlim et al., 2022)

Beberapa tanda yang menandakan demam dengue berubah menjadi demam berdarah dengue adalah:

  • Riwayat demam selama 2-7 hari
  • Gusi berdarah atau urine berdarah
  • Kadar trombosit rendah < 100.000/mm3.

Demam dengue memiliki pola naik-turun Demam berdarah dengue ini rentan terjadi di fase di mana demam sedang turun, sehingga sering disalahartikan sebagai kondisi yang membaik. Padahal di momen inilah fase kritis dari demam dengue. Hal ini karena jumlah keping darah bisa turun drastis, kadar hematokrit meningkat, kadar protein dan albumin menurun, serta terlihat tanda penumpukan cairan di rongga pembatas paru dengan tulang rusuk (efusi pleura) dan rongga perut (asites).

Penanganan

            Penanganan demam dengue dan demam berdarah dengue terutama bersifat suportif, dengan fokus pada hidrasi dan pengawasan ketat terhadap tanda-tanda kebocoran plasma dan perdarahan. Pada demam dengue, penanganan ditujukan untuk meringankan gejala dan membuat pasien lebih nyaman dan tidak memerlukan terapi khusus selain penanganan simptomatik dan suportif. Proses penanganannya antara lain, mengonsumsi cairan secara cukup, pemberian obat antipiretik dan analgesik seperti paracetamol.

            Jika demam dengue berkembang menjadi demam berdarah dengue (DBD), diperlukan perawatan intensif dan pemantauan ketat untuk mencegah komplikasi syok dan perdarahan masif. Diperlukan rawat inap untuk pemantauan tanda vital, jumlah trombosit, hematokrit, dan tanda-tanda kebocoran plasma secara berkala (setiap 4-6 jam). Selain itu, diperlukan terapi cairan intravena yang merupakan komponen utama penanganan DBD, terutama saat terjadi kebocoran plasma dan tanda-tanda syok. Apabila terjadi perdarahan spontan yang masif, perlu diberikan transfuse trombosit bila jumlah trombosit < 20.000/mm³ atau terdapat perdarahan aktif. Transfusi darah merah atau fresh frozen plasma (FFP) juga dapat diberikan sesuai indikasi, terutama bila terjadi gangguan koagulasi atau anemia berat.

Pencegahan

Demam berdarah dengue adalah demam dengue tingkat lanjut. Oleh karena itu, demam dengue perlu dicegah sejak dini dengan upaya pencegahan.

1. Pola hidup sehat

    Pola hidup sehat dimulai dari diri sendiri. Menjaga kebersihan ddiri dan lingkungan adalah pondasi awal yang kuat. Pemantauan daya tahan tubuh juga perlu dilakukan dengan Konsumsi makanan bergizi dan seimbang yang kaya akan vitamin dan mineral, terutama vitamin C dan D, seperti buah jeruk, jambu biji, sayuran hijau, ikan, dan telur. Rutin olahraga dan memiliki waktu istirahat yang cukup dapat memperkuat system kekebalan tubuh.

    2. Pemberian vaksin DBD

    Mencegah DBD dapat dilakukan dengan memberikan vaksin dengue. Vaksin demam berdarah dengue bisa diberikan kepada anak-anak maupun orang dewasa, tepatnya usia 6–45 tahun. Vaksin ini juga boleh diberikan pada orang yang sudah maupun belum pernah mengalami DBD.

    Melansir dari alodokter.com, dosis vaksin diberikan 2 kali, masing-masing sebanyak 0,5 ml dengan jarak waktu penyuntikan selama 3 bulan. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua orang boleh mendapatkan vaksin demam berdarah. Berikut ini adalah kelompok orang yang tidak dianjurkan menjalani vaksinasi DBD, seperti ibu hamil & menyusui, orang yang memiliki riwayat reaksi alergi parah terhadap vaksin, orang yang sedang sakit dan penderita infeksi HIV.

    3. Pemberantasan sarang nyamuk

    Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) merupakan program pencegahan yang bertujuan mematikan nyamuk penyebab demam dengue. Program ini dilakukan dengan fogging atau pengasapan insektisida. Program ini juga menerapkan metode 3M Plus, yaitu:

    • Menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, dan toren minimal satu kali seminggu untuk membasmi jentik nyamuk.
    • Menutup rapat tempat penampungan air agar nyamuk tidak dapat bertelur.
    • Mendaur ulang atau membuang barang bekas yang dapat menampung air hujan, seperti ban bekas, kaleng, dan botol.

    Selain 3M, lakukan langkah Plus seperti memasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah, mengatur cahaya yang cukup dalam rumah, menaburkan bubuk larvasida (abate) pada tempat yang sulit dikuras, serta menanam tumbuhan pengusir nyamuk

    Referensi

    Ii, B. A. B. (n.d.). Yuntoharjo. 10–42.

    Nurlim, R., Haristiani, R., Biologi, T., Training, T., Kiai, U., Achmad, H., & Jember, S. (2022). Hubungan gejala klinis (demam, pusing/sakit kepala, nyeri otot/ sendi, muntah, perdarahan gusi) dengan derajat keparahan infeksi dengue. Jurnal Kesehatan Pertiwi, 4, 2022. https://journals.poltekesbph.ac.id/index.php/pertiwi/article/view/109

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *